Countdown

Waktu mulai menghitung mundur. Ini adalah jam-jam terakhir sebelum sy berangkat meninggalkan makassar dengan berbagai cita-cita & harapan, dengan berbagai kekuatiran dan kecemasan. Perusahaan itu memang cukup besar untuk seorang Yuriko yang biasa-biasa saja. Namun perusahaan itu belum cukup besar untuk mengatasi semua kekuatiran2 ini. Ditambah lagi belum adanya kepastian penempatan. Bagaimana jika ternyata penempatanku di Kepulauan Maluku? Kepulauan yg hanya kukenal lewat pelajaran IPS SD. Bagaimana jika nantinya penempatanku hanya seorang diri? Bagaimana saya akan mencari t4 tinggal di kota yg belum kukenal? Kira2 siapa saya akan mintai tolong? Bagaimana sy akan berangkat kerja di kota yg belum sy kenal? Bagaimana jika saya tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja? Bagaimana jika sy tidak dapat kesempatan untuk pulang bertemu orangtua tiap tahunnya? Bagaimana jika orangtuaku sakit, dan sy tidak bisa menjenguk dan merawatnya? Bagaimana jika uban & kerutan diwajah orangtua ku semakin banyak & mereka semakin lelah untuk melakukan semuanya dan saya tidak ada untuk membantu mereka? Bagaimana jika saya telah mengambil keputusan yg salah dengan menandatangani kontrak itu? Bagaimana jika… bagaimana jika… dan berbagai “bagaimana” lainnya terus saja muncul dikepalaku sejak bulan lalu. Sampai akhirnya seorang teman bertanya kembali : Bagaimana jika ternyata penempatanmu di Makassar? atau di Palopo? atau mungkin di Malili? Sebuah pertanyaan sederhana dan “seharusnya” mampu mengkalibrasi kembali pemikiran2 negatif itu.

Seperti sebuah buku. Saat kita selesai membaca sebuah chapter, pikiranmu akan dipenuhi dengan rasa penasaran, keingintahuan, pertanyaan2 dan mulai menyimpulkan isi chapter berikutnya, berdasarkan chapter yg sudah kita baca. Kenapa kita tidak bisa membiarkan diri kita untuk lanjut membaca chapter selanjutnya tanpa bertanya dan menyimpulkan terlebih dahulu? Toh, kita bakal tau ceritanya setelah membacanya. Dan, kadangkala isi chapter berikutnya tidak selalu sama dengan kesimpulan yg telah kita ambil. Kadangkala, ternyata tidak ada hal yg perlu dikuatirkan, karena semuanya berjalan baik-baik saja. Kadangkala, ternyata kita telah membuang energi untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan2 kita, padahal jawaban itu tersedia di bagian tengah chapter selanjutnya. Seorang teman pernah mengingatkan : Yuri, tidak semua pertanyaan butuh jawaban saat itu juga, terkadang saat kau mulai menjalani, perlahan jawaban itu mulai ada.

Toh, dengan semua pemahaman itu, sy tetap belum bisa menghilangkan kekuatiran2 & pertanyaan2 dari kepalaku. Meskipun dengan pemahaman itu, saya bisa menjadi lebih tenang dan “merasa” lebih dewasa, namun tetap saja belum mampu mengontrol secara penuh pemikiran ini. Itulah Yuriko, seseorang dengan kekuatiran yang “terlalu banyak”. Lebaaay… Tidak semua motivator mampu memotivasi diri sendiri. Tidak semua dokter mampu mengobati diri sendiri. Tidak semua ahli gizi mampu melakukan diet ketat untuk diri sendiri. Mmmm, sebuah ujud “self defence” oleh seorang Yuriko Sonambela. Yaaah, keep learning your life, nak. Hehehe….

Anyway, jd sedih harus berpisah dari keluarga, dari sepupu2, dari sahabat2, dari comfort areaku. Moga2 bisa sukses membangun comfort area di tempat baru nantinya. Uups, blm tentu tempat baru, siapa tau bakal balik di South Sulawesi Area? =) Cayyyooo!!! God will lead my way.

Advertisements
Countdown

14 thoughts on “Countdown

  1. weleh mau kemana yuriko ? šŸ™‚
    pilihan ada konsekuensinya… yang jelas kemauan dulu untuk menjalani… itu yang penting.
    nanti setelah dijalani, sedikit demi sedikit akan ketahuan arah hidupnya kok šŸ™‚
    selamat berjuang…. banzai.

    Like

  2. yhan says:

    Smangat mpok!! Jangan lupa ngabar2in klo sdh sampe p.jawa y, hehehe.. *padahal dlm 8 mgg ini sy terisolir di kampung orang, hehehe..

    Like

  3. hi yuriko……….
    seneng banget membaca kegundahan hatimu yang justru kamu jadikan lecutan untuk masa depanmu…….saya yakin ini langkah kecil menuju lompatan yang besar….dan keberanianmu untuk out from comfort zone patut diacungi jempol…….sukses ya…..

    your x-teacher in smp yps
    budi pranoto

    Like

  4. Wah Pak Budi. senengnya bisa connect lewat dunia maya. Thanks buat semangatnya. Msh berusaha melompat, walaupun blm terlalu tinggi. =)
    Masih inget aja sm Yuri, Pak. Pdhl udh lama pisan gak ketemu. Bpk sekarang di Sumbawa yah? gmn kabarnya? Bisa nemu Yuri ceritanya gmn yah? hehe… *penasaran*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s