10 Hari Menjelang Perubahan Paradigma (dedicated for 23)

Kami sedang berkumpul dan bercanda malam tadi. Gurauan teman2 menirukan kata2 pelatih dan mendemokan kembali kebodohan2 di 23 selalu menjadi objek pembicaraan yg paling menarik belakangan ini. Teriakan-teriakan khas ala militer rasanya masih saja terngiang ditelinga. Namun bukan perasaan kesal dan dongkol yg muncul saat memori me-rewind ingatan ke saat-saat berat itu, melainkan perasaan kagum dan keinginan untuk kembali ke sana, sebuah tempat belajar dengan metode yg tidak biasa, Batalyon 23.

Dengan tidur 10 hari di tenda, aku belajar bahwa kenyamanan adalah sebuah parameter yg bisa di adjust dengan mudah.

Dengan hidup dalam kondisi yg equal satu sama lain, aku belajar peduli, persaudaraan, dan bertanggung jawab terhadap kelompok, sebuah nilai yg telah banyak ditinggalkan akibat individualitas dan ego yg semakin tinggi belakangan ini. Aku belajar kuatir dengan kondisi temanku yang kurang baik.

Dengan jadwal yg ekstra ketat, aku belajar manajemen waktu, baik secara personal dan kelompok.

Dengan jadwal ujian yg padat dan waktu belajar yg sangat minim, aku belajar untuk fokus dan konsentrasi dalam melakukan segala hal.

Dengan jadwal jaga serambi, aku belajar pentingnya berbagi tanggungjawab untuk kepentingan bersama dan pentingnya “ownership” terhadap sebuah komunitas.

Dengan alarm yg tiba-tiba di tengah malam, aku belajar untuk teratur dalam meletakkan benda-bendaku dan belajar bersiaga. Dan saat salah satu anggota komunitas tidak berpakaian lengkap & kami mendapat “tindakan”, aku belajar untuk lebih peduli lagi dengan komunitasku. Aku belajar untuk tidak “APATIS”, sebuah kata yg baru kupahami maknanya belakangan ini.

Dengan umpatan2 dan “tindakan2”, aku belajar makna dari konsekuensi, dan aku paham bahwa itu adalah ujud kepedulian dan motivasi dari para pelatih.

Dengan ambulance 24 jam, aku belajar bahwa, pelatih benar-benar peduli dan tulus dalam membina kami.

Dengan yel-yel dan menyanyi keras saat berlari dalam barisan, aku belajar bagaimana memotivasi diri sendiri dan kelompok, dan bagaimana mempertahankan kondisi termotivasi itu.

Dengan jadwal makan “5 menit”, aku belajar bahwa pada dasarnya manusia memiliki kemampuan, hanya terkadang dibutuhkan katalisator dan sedikit pressure untuk mewujudkannya.

Dengan materi-materi militer, teori & praktek, aku belajar untuk mencintai Indonesia dengan lebih rasional dan juga belajar bahwa aku ikut bertanggung jawab terhadap pertahanan keamanan Indonesia.

Seperti yg sering dikatakan pelatih2 ku, “Semua aktivitasmu di 23 ini ada manfaatnya,” itu lah yg kurasakan saat ini.

Terima kasih Pelatih. Terimakasih 23. Semoga bisa tetap menjaga nilai2 yg sudah kudapatkan dan menjadi almamater 23 yg membanggakan kalian. Kita sama2 mengabdi kepada negara, hanya saja melalui jalur yg berbeda. Sungguh bangga bisa merasakan dan menjadi bagian dari salah satu barisan baret merah, sebuah infantri yg kesetiaannya terhadap Indonesia tidak perlu diragukan lagi.

“Langkahkan kaki tak perlu bimbang, kobarkan semangatmu. Walau rintangan terus menghadang, PLN pantang mundur. Jangan tanyakan apa yg telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yg telah kau berikan kepada bangsamu. Tunjukkan baktimu, jiwa & ragamu, demi bumi negara kita. 23 almamaterku, 23 kebangganku.”

Advertisements
10 Hari Menjelang Perubahan Paradigma (dedicated for 23)

One thought on “10 Hari Menjelang Perubahan Paradigma (dedicated for 23)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s