Lateness

Sobat, I just made something stupid today. I woke up late today!!!!!! My work time start at 08.00. I usually wake up at 06.00, sometimes at 05.30 and sometimes at 06.15. It’s because I like to enjoy my breakfast time. I like to enjoy every swallow of my hot coffee/tea while reading something. Too bad, I can’t do that to day, because I WOKE UP AT 07.30! OMG!

And I just found today that I had talent in acrobatic. You just couldn’t imagine how I jump from my bed and fly into the bathroom. Took a bath less than 5 minutes, prepare my self and my stuff less than 5 minutes, and ran to the office. I put my finger into the finger print absence machine at 07.57. It deserve to be celebrated. Hahahaha….

Something I didn’t do today because of my lateness :
1. Ironing my clothes. Could you imagine, I go to office with a rumpled clothes. Gee! No one will be attracted by a lady in rumpled shirt. Huaaaa!
2. I didn’t use my favorite parfume. I have several parfumes. And it’s a must before leaving my room. I feel not confidence when I don’t use it. Actually that’s only because of my own mindset.
3. I didn’t take lovely time at breakfast. No big deal, I already took my revenge at the seminar snack and lunch. Hahahaha…. (Lucky I am, because today there’s a software training at the office and training means free consumption. Hehe…)
4. Leave my bed in a mess.
5. Leave my room without sweeping it.

I think I have to learn not to press the postpone button when my alarm ringing. That’s all above the consequences. Hahahaha….

Or, perhaps, I should have an alarm clock like this. Do you know where I could buy this? =) :

Manado, 14 Oct 2009.

Advertisements
Lateness

Alasan Untuk Memaafkan

Sebuah bacaan singkat dari seorang sahabat…

Semoga bermanfaat… GBU.

Bacaan: Matius 18:21-35 Setahun: Matius 1-4 Nas: Dan ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (Matius 6:12)

Di sebuah ruang pengadilan, seorang pemuda duduk di kursi terdakwa. Ia didakwa membunuh teman sebayanya. Sebelum hakim membaca keputusan, ia bertanya kepada ayah anak yang menjadi korban, “Pemuda ini terbukti bersalah telah membunuh putra Anda. Menurut Anda hukuman apa yang setimpal untuknya?” Bapak tua itu menjawab, “Pak Hakim, anak saya satu-satunya telah meninggal. Hukuman apa pun tidak akan mengembalikan hidupnya. Saya sangat mengasihinya, dan sekarang tidak punya siapa-siapa untuk saya kasihi. Tolong kirimkan terdakwa ke rumah saya, untuk menjadi anak saya.”

Apa reaksi kita terhadap orang yang pernah menyakiti kita? Ingin menghukumnya? Mencoba untuk membuatnya merasakan penderitaan yang kita rasakan, bahkan kalau bisa lebih menderita; biar tahu rasa? Memaafkan memang bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan. Namun, begitulah yang Tuhan ingin kita lakukan (ayat 22). Lalu, bagaimana melaksanakan kehendak Tuhan itu di tengah keterbatasan kita? Pertama, sadari bahwa ibarat orang berutang, kita lebih punya banyak utang kepada Tuhan, daripada orang lain kepada kita. Dosa kita yang begitu banyak, oleh kasih Kristus lunas dibayar di kayu salib. Jadi, kalau utang kita yang segitu banyaknya sudah Tuhan bayar lunas, mengapa kita masih terus menuntut orang lain “membayar” utangnya kepada kita (ayat 33)? Kedua, sadari bahwa menyimpan dendam dan kebencian dalam hati hanya akan menimbulkan ketidaksejahteraan. Hanya menambah beban. Dengan memaafkan sebetulnya kita tengah berbuat baik kepada diri sendiri.

KEKUATAN SESEORANG TERLETAK KETIKA IA BISA MEMAAFKAN ORANG YANG MENYAKITINYA.

Matius 18:21-35 :

21. Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

22. Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

23. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

24. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

25. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

26. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.

27. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

28. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!

29. Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.

30. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

31. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

32. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.

33. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

34. Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

35. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Alasan Untuk Memaafkan

My Favorite Place and My Best Friends at Manado

After 3 weeks at Manado, finally i recognize 12 places : 1. Office, 2. Home, 3. Church, 4. Mall, 5. Office, 6. Home, 7. Church, 8. Mall, 9. Office, 10. Home, 11. Church, and the last, Yeah, thats right! The last is Mall. Hahahaha!
I’ve already find many best friends and favorite place in here, and I’d like you to know my favorite place. My favorite place is my room. I pay Rp. 625,000/month. My room painted with light yellow color. It’s completed with wooden bed, desk, mirror, and wardrobe. I like these simple stuff, i like it’s color, and i love this natural theme. There’s also bathroom inside my room. Small but clean bath room. It decorated with light brown ceramics.

Because the temperature is quite hot in here, I brought fan myself from Makassar. I don’t really like the color actually. It doesn’t suitable with my room. But, no other choice, because it’s free from my parents. Hehe. But I really selective for choosing other stuff, especially the color. Because I don’t want the color destruct the “Natural Theme” of my room.

I Also bought a shelf. The color is Dark Blue. I hate that color. It’s just dont suitable with my room. But, pssst! It’s a secret! That’s the cheapest one at the department store -NO OTHER COLOR-. I pay only Rp. 89,000 for that one. I fill it that with tableware and books. And I bought a transparant container for snack and instant food. I always keep my container full with food. Because, I often get lazy to find dinner. Especially at week end time. I like spend my time in this beloved room. I’ve got everything I like in here.

Next, I’d like to introduce you my best friends at Manado.

First, My bed, named Greenos. Sleeping is my hobby other than reading. I always leave Greenos clean and tidily.
Second is my books. I love reading. I like to read any kind of book.

And third is my food container.Indomie, Ultra Milk -plain taste- and malkist roma are basic content. I always have it. And also nescafe 3 in 1 original. Can’t imagine my life without coffee.

Fourth, my desk. I always spend my time in here at least 3 hours for each days. Reading, listening music, home working, and others. Ah ya, do you see that “Green Stupid Bunny” Clock? I bought it for only Rp. 15,000. And i just know why it only takes Rp. 15,000. Come and see it closer. Look at the minutes and hours hand. Can you find the oddity? The clock shows us 8.44, but the hours hand point toward to less than 8.30. That’s why I call it Stupid Bunny. I also put the pictures of my goddaughter. I miss her so. And also that china ceramics. It’s a present from my aunty. It decorated with Ox, based on my Shio. She bought it at the Imported China Ceramic Exhibition.
Fifth, my watches. The black one is from my best friends and the other one is from my mother. I use it everyday. It’s a must for me.
Sixth are all my electronic stuff.
And the last are my glasses. Those are my favorite glasses. Both of them are from my best friends. Since, drinking coffee and tea is my routine activities for each day, I can’t imagine my life without my those fave glasses.

See… I’ve got lot of friends here. =)

Life isn’t that suck, it’s just depend on your point of view.

Manado, 12 Oct 2009

My Favorite Place and My Best Friends at Manado

Dia, Mereka, Aku, dan TUHAN

Dia yang Kau panggil presiden, yang kemudian membuat sebuah kebijakan sederhana namun berdampak kurang maksimal bagi puluhan ribuan orang, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, saat mengambil keputusan itu dia telah mengerahkan semua kemampuan maksimalnya dan meninggalkan keluarganya selama berhari-hari. Kita tidak pernah tahu.

Dia yang kau panggil Pak Direktur, Sang Pemilik Perusahaan, yang kemudian mengambil keputusan untuk melakukan PHK bagi ribuan karyawannya, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, dia telah berdoa dan berpuasa sebelum akhirnya mengambil keputusan itu. Kita tidak pernah tahu.

Dia yang kau panggil Pembantu-Office Boy/Girl-Tukang Bersih2-atau apapun namanya, yang selalu melakukan apa yang kau perintahkan, yang kemudian memecahkan gelas kesayanganmu, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, dia sedang mengalami masalah berat saat melakukan itu. Kita tidak pernah tahu.

Mereka yang kau sebut “Teroris”, yang kemudian melakukan sebuah tragedi kemanusiaan mengerikan, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, Tuhan telah memilih mereka dan merencanakan ini untuk kemuliaan nama-Nya melalui jalan yang kita tidak pernah tahu.

Aku, yang kemudian mengambil sebuah langkah sederhana dalam hidupku namun mengubah seluruh plan hidupku untuk 20 tahun kedepan yang telah kususun sejak 2 tahun lalu, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Aku berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, Tuhan mempersiapkanku untuk sebuah rencana yang lebih besar. Kita tidak pernah tahu.

TUHAN, yang kemudian meletakkan kita dalam sebuah kesulitan yang amat sangat, ialah Sang Sempurna, Sang Mahakuasa, yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan SEMPURNA yang tidak mampu dicapai oleh pemikiran manusia manapun. Tidak ada kata MUNGKIN bagi dia sebab semuanya pasti. Untuk itu yakinlah, bahwa dalam kesulitan yang amat sangat itu, akan ada pembelajaran yang belum tentu kita pahami saat ini.

Karena itu, belajarlah maklum saat dia dan mereka berbuat salah, sebab mereka hanyalah manusa biasa dan hanya TUHAN yang sempurna. Saat kita mengalami permasalan yang serupa, belum tentu kita mampu melakukan yang lebih baik dari pada dia dan mereka.

Cobalah pahami posisi dia dan mereka, belajarlah memaafkan, namun jangan lupakan peristiwa-peristiwa itu. Sebab menjaga ingatan akan peristiwa itu akan memberikan pembelajaran yang lebih dan mengingatkan kita untuk siaga setiap waktu.

Belajarlah untuk ikhlas, sebab bukan hanya dia dan mereka yang berbuat salah, aku, kau, dan semua manusia pun begitu.

Belajarlah untuk bersyukur, sebab dari semua kesalahan itu, tentunya ada pesan penting dan pelajaran baru yang ingin Tuhan sampaikan untuk kita.

Belajarlah untuk menyikapi semua itu dengan BIJAK, sobat.

Manado, 3 Oct 2009.

Dia, Mereka, Aku, dan TUHAN