Dia, Mereka, Aku, dan TUHAN

Dia yang Kau panggil presiden, yang kemudian membuat sebuah kebijakan sederhana namun berdampak kurang maksimal bagi puluhan ribuan orang, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, saat mengambil keputusan itu dia telah mengerahkan semua kemampuan maksimalnya dan meninggalkan keluarganya selama berhari-hari. Kita tidak pernah tahu.

Dia yang kau panggil Pak Direktur, Sang Pemilik Perusahaan, yang kemudian mengambil keputusan untuk melakukan PHK bagi ribuan karyawannya, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, dia telah berdoa dan berpuasa sebelum akhirnya mengambil keputusan itu. Kita tidak pernah tahu.

Dia yang kau panggil Pembantu-Office Boy/Girl-Tukang Bersih2-atau apapun namanya, yang selalu melakukan apa yang kau perintahkan, yang kemudian memecahkan gelas kesayanganmu, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, dia sedang mengalami masalah berat saat melakukan itu. Kita tidak pernah tahu.

Mereka yang kau sebut “Teroris”, yang kemudian melakukan sebuah tragedi kemanusiaan mengerikan, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, Tuhan telah memilih mereka dan merencanakan ini untuk kemuliaan nama-Nya melalui jalan yang kita tidak pernah tahu.

Aku, yang kemudian mengambil sebuah langkah sederhana dalam hidupku namun mengubah seluruh plan hidupku untuk 20 tahun kedepan yang telah kususun sejak 2 tahun lalu, hanyalah manusia biasa yang belum mampu membuka tirai masa depan. Aku berpikir dengan berbagai pertimbangan dalam batasan maksimal otak manusia biasa. Mungkin, Tuhan mempersiapkanku untuk sebuah rencana yang lebih besar. Kita tidak pernah tahu.

TUHAN, yang kemudian meletakkan kita dalam sebuah kesulitan yang amat sangat, ialah Sang Sempurna, Sang Mahakuasa, yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Dia berpikir dengan berbagai pertimbangan SEMPURNA yang tidak mampu dicapai oleh pemikiran manusia manapun. Tidak ada kata MUNGKIN bagi dia sebab semuanya pasti. Untuk itu yakinlah, bahwa dalam kesulitan yang amat sangat itu, akan ada pembelajaran yang belum tentu kita pahami saat ini.

Karena itu, belajarlah maklum saat dia dan mereka berbuat salah, sebab mereka hanyalah manusa biasa dan hanya TUHAN yang sempurna. Saat kita mengalami permasalan yang serupa, belum tentu kita mampu melakukan yang lebih baik dari pada dia dan mereka.

Cobalah pahami posisi dia dan mereka, belajarlah memaafkan, namun jangan lupakan peristiwa-peristiwa itu. Sebab menjaga ingatan akan peristiwa itu akan memberikan pembelajaran yang lebih dan mengingatkan kita untuk siaga setiap waktu.

Belajarlah untuk ikhlas, sebab bukan hanya dia dan mereka yang berbuat salah, aku, kau, dan semua manusia pun begitu.

Belajarlah untuk bersyukur, sebab dari semua kesalahan itu, tentunya ada pesan penting dan pelajaran baru yang ingin Tuhan sampaikan untuk kita.

Belajarlah untuk menyikapi semua itu dengan BIJAK, sobat.

Manado, 3 Oct 2009.

Advertisements
Dia, Mereka, Aku, dan TUHAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s