George : Kejutan Untuk Mama

“Ginaaaa!!!! Kenapa kau buka pintu pagar bebek ituu???” Tante Lely berteriak dari dapurnya, saat melihat bebek-bebek berjalan teratur keluar dari areanya. “Kwek-kwek-kwek,” bebek-bebek menyambut gembira udara kebebasan sore itu. Gina bersorak ditempat persembunyiannya,”Alex! Misi kita berhasil!” sambil menyikut pelan anjingnya. “Woof!” Alex mengiyakan. Gina kemudian menambah satu centang di To Do List nya hari itu, yang sudah kucel karena tangan Gina yang penuh tanah.

Hai! Aku George (nama lengkapnya sebenarnya Georgina, tapi dia selalu memperkenalkan diri dg nama George. Yang memanggi dia Gina, hanya keluarga dan tetangga dekat saja) dan ini sahabatku Alex. Umurku 6 tahun. Don’t ever call me Gina anymore! Nama itu terlalu perempuan. Aku ini lebih kuat dari anak laki2 tau. Ibuku seorang engineer, aku kurang mengerti pekerjaannya, yang kutau dia sering pulang dengan baju yang penuh dengan debu pabrik, dengan meteran dan HT di pinggangnya, dan kertas berukuran besar di kantong belakangnya. Kertas itu penuh dengan garis-garis dan angka, yang tentunya tidak ku mengerti. Kata Mama, itu desain. Papaku seorang chef. Dia sangaaaaaat pandai memasak. Dia bisa masak apa saja! Kami punya kebun sayur di belakang, dan ayah sangat senang merawat tanamannya. Kami jarang berbelanja sayur, karena kami punya semua di kebun belakang rumah. Mmmm… Hampir semua.

Hari ini Gina, ehm… George, punya 5 To Do’s :
1. Menaruh permen karet di bangku Ms. Agnes, guru B.Inggrisnya yang kemarin membuat George malu di kelas, dengan mengumumkan ke seluruh siswa kenakalan George yang tidak mengerjakan PR. V
2. Membantu ayah berkebun (yang berakhir dengan rusaknya sepetak bedeng sawi, setelah George berlari2 di atas bedeng itu untuk mengusir ulat) V
3. Membantu Alex mengusir kucing malas yang akhir2 ini sering muncul di daerah kekuasaan mereka V
4. Membebaskan tawanan Tante Lely, tetangganya yang terkenal galak. (Membebaskan? Lebih tepatnya, melepaskan bebek peliharaan Tante Lely dan membiarkan bebek itu merusak taman bunga Tante Lely) V
5. Membuat kejutan untuk Mama.

George terlihat puas melihat listnya, yang hampir penuh. Tinggal satu lagi, poin ke-5. George memasukkan itu dalam listnya, untuk membuat Mamanya gembira. Minggu lalu, mamanya mendapat surat panggilan dari sekolah, karena George berkelahi dengan teman laki-lakinya. George menendang tulang kering anak itu sampai memar dan bengkak. “Itu bukan salahku Mam, Eric yang memulai. Dia menarik2 rambutku dari belakang,” George membela diri waktu itu. “Gina, kau harus bisa membedakan antara membela diri dan membalas. Kau membalas Eric, berarti kau sama saja dengannya,” kata Mama tegas, mengakhiri perdebatan mereka hari itu. George masih merasa benar melakukan itu sampai hari ini. Sepertinya George belum paham betul arti dari kata2 Mama. Hanya saja, somehow sepertinya Mama masih kesal padanya hingga pagi tadi dan George ingin berbaikan lagi dengan Mama.

“Alex, kau punya ide kejutan untuk Mama?” Alex berguling2 di rumput dan kaget saat tiba2 seekor belalang lompat dan hinggap d hidungnya. “Oke, kusimpulkan kau tidak punya ide,” kata George. George kemudian masuk ke rumah dan duduk di ruang kerja Mama. Meja kerja Mama penuh dengan kertas2 raksasa yang kata Mama adalah desain. Pensil rotring dan penggaris tergeletak begitu saja di meja. George kemudian berpikir, “Meja ini terlalu polos. Alangkah bagusnya jika meja ini ada hiasan buatanku. Mama pasti senang.”

George pun langsung berlari ke gudang, mencari bahan yang kira2 bisa digunakannya. “Ah, hiasan dari pipa bekas pasti bagus. Mama kan suka pipa!” George pun mengumpulkan pipa pvc bekas, tak lupa ia mengambil lem pvc, ia sering melihat Mama menggunakan itu untuk merekatkan pipa. Ia kembali ke meja kerja Mama dan memulai proyek kecilnya. Ia mulai mengelem di sana-sini. Oh tidak! George lupa memindahkan lembaran desain Mama. Sekarang desain2 itu penuh dengan tumpahan lem. “Ah, hiasan kelinciku jadi!” ujar George ceria, ia belum menyadari kecerobohannya. “Masih kurang sesuatu… Ah ya!” George berlari ke kebun papa, memetik daun sawi dan beberapa helai ilalang. Ia kemudian memasangkan bunga dan rerumputan itu di prakaryanya. “Selesai,” sambil menepuk tangan.

“Spadaaa! I’m home!” Mama pulang. Seperti biasa, Mama akan mencium Papa terlebih dahulu dan masuk ke ruang kerja untuk meletakkan semua perlengkapan kerjanya. George menunggu antusias kedatangan Mama di ruang kerja. Mama masuk, melihat desainnya yang penuh dengan lem beserta benda aneh di atas desain2nya. Mama menoleh ke George dengan cepat dan berteriak, “GEORGINA BEATRIX WHITE!” Wauw, kejutan George betul2 membuat Mama terkejut! Ooo, ini bukan pertanda baik. Papa pun langsung berlari masuk ke ruang kerja Mama, dengan panci di tangannya.

George kaget. George tidak menyangka Mama akan begitu marah melihat kelinci buatannya, yang menurut George lucu. Ok, desain Mama memang menjadi sedikit kacau karena lem2 itu. “A-a-aku hanya… merasa Mama masih marah padaku. Jadi aku-aku…” George berusaha menjelaskan. “Lihat apa yang kau perbuat dengan desainku!!” suara Mama menggelegar. George diam. Sebenanya ia ingin minta maaf, tapi ia terlalu keras hati. George melihat keluar jendela, matanya mulai berkaca-kaca. “Ehm. Uh… Tapi itu hiasan yang bagus kok. Beruang yang lucu,” Papa menengahi. George mendelik, “That’s a rabbit!” sebulir air mata george menetes. “Ow, OK, a cute rabbit,” suara papa mengecil. Tangan papa bergerak2, meminta mama untuk tidak marah. Papa berbisik, “C’mon Ma. Kau kan bisa memprint ulang desainmu di kantor. Dia hanya berusaha merebut hatimu kembali.” Suasana hening beberapa saat, hingga akhirnya Mama menghembuskan nafas panjang, merapikan desain2nya, dan meletakkan kelinci pvc itu di sudut meja kerjanya.

“Papa akan masak udang mayonaise kesukaan putri kecil Papa malam ini dan Empek-empek kesukaan Mama!” Ujar Papa, berjalan ke dapur, sambil menggoyang2kan pancinya. Mama menarik George dan menggendongnya, mengikuti Papa ke dapur. “Kau harus rajin mengganti bunga di kelinci itu, supaya Mama semangat bekerja,” ujar Mama pelan. “I’m sorry,” George berujar sangat lembut, hingga Mama hampir tidak mendengarnya. Mama hanya membalas dengan usapan di punggungnya. Namun itu sudah lebih dari cukup.

“Bolehkah rabbit ikut dinner malam ini?” George bertanya. Malam itu mereka duduk berempat di meja makan, Papa-Mama-George-Rabbit. Menu makan malam mereka sedikit kurang pas, empek-empek dan udang mayonaise? Namun, somehow, menu malam itu terasa lebih enak daripada biasanya.

Advertisements
George : Kejutan Untuk Mama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s